Senin, 22 Desember 2008

Cara Menemukan dan Merumuskan Masalah Penelitian

Cara Menemukan dan Merumuskan Masalah Penelitian

1. Sumber dan Cara Menemukan Masalah Penelitian

Bagaimana cara menemukan dan merumuskan masalah penelitian bagi orang yang belum berpengalaman bukanlah sesuatu yang mudah. Oleh karena itu perlu kiat-kiat tertentu dalam mencari, menemukan, dan merumuskan masalah. Menurut Suharsimi Arikunto (1996:25), sumber masalah dapat diperoleh dari berbagai macam arah: dari kehidupan sehari-hari, dari membaca buku, dapat diberi dari orang lain. Akan tetapi menurutnya yang paling baik adalah datang dari dirinya sendiri sehingga ada dorongan kebutuhan untuk memperoleh jawaban. Dengan demikian, penelitian akan berjalan dengan sebaik-baiknya.
Dalam kerangka pikir dalam dunia manajemen, Sugiyono (1994:35) menambahkan bahwa sumber masalah bisa diambil dari 1) adanya penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan; 2) penyimpangan antara apa yang telah direncanakan dengan kenyataan; 3) dari pengaduan; dan 4) dari kondisi yang muncul karena adanya kompetisi.

Masalah penelitian bisa juga diambil dari sumber lain yaitu: 1) bacaan terutama bacaan yang berisi laporan penelitian; 2) seminar, diskusi, dan lain-lain pertemuan ilmiah; 3) pernyataan pemegang otoritas; 4) pengamatan sepintas; 5) pengalaman pribadi; dan kadang kala 6) perasaan intuitif (Suryabrata,(1983:61)
Mengapa demikian ? Alasanya adalah karena bacaan terutama bacaan yang berisi laporan penelitian biasanya mencantumkan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya. Seminar, diskusi, dan pertemuan ilmiah mudah dapat dijadikan sumber masalah penelitian karena umumnya pertemuan-pertemuan tersebut membantu peserta bisa melihat, menganalisis, dan menyimpulkan permasalahan secara profesional. Dengan demikian, mudah muncul persoalan-persoalan yang memerlukan penelitian-penelitian. Demikian pula peryataan pemegang otoritas baik pemerintahan maupun bidang ilmu tertentu banyak memunculkan permasalahan yang memerlukan penelitian.

Pengamatan sepintas dapat menjadi sumber masalah penelitian. Masalah itu kadang-kadang muncul setelah seseorang melihat hal-hal tertentu di lapangan yamg menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya menjadi suatu masalah penelitian walaupun sebelumnya dia tidak sengaja mencari masalah penelitian.
Pengalaman pribadi dapat dijadikan sumber masalah penelitian terutama penelitian yang berhubungan dengan ilmu-ilmu sosial. Pengalaman ini dapat berkaitan dengan kehidupan pribadi maupun kehidupan profesional. Selain itu perasaan intuitif pun bisa dijadikan masalah. Intuisi dapat muncul setelah seseorang bangun tidur atau istirahat. Hal ini akibat terjadinya pengendapan informasi yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti itu kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan atau masalah.

Dalam bidang pendidikan, penelitian bisa diambil dari komponen-komponen yang tercakup dalam pendidikan. Permasalah bisa diambil dari sisi siswa (misalnya latar belakang kognitif, sosial ekonomi, latarbelakang budaya dan afektif ); dari proses atau kegiatan belajar mengajar (pendekatan, metode, teknik); dari sisi guru (latar belakang pendidikan, sosial ekonomi, minat, kinerja dll.); dari sisi lingkungan (masyarakat, lingkungan alam, pemerintah, kondisi, suasana); dari sisi kurikulum (sistem penyajian, administrasi, dan evaluasi); dari sisi hasil (baik kognitif, afektif, maupun psikomotor); maupun hubungan antar komponen-komponen tersebut.

Meskipun masalah penelitian bisa diambil dari begitu banyak sumber, masalah tidak akan dapat diperoleh tanpa kepekaan peneliti dalam mengidentifikasi masalah. Suatu kondisi bisa saja bukan masalah bagi orang awam yang tidak terlalu peduli dengan kondisi itu, tetapi bagi peneliti yang punya kepekaan yang tinggi, kondisi itu bisa menjadi masalah yang bernilai strategis untuk diteliti. Dengan demikian, untuk memperoleh masalah yang berkualitas dalam penelitian, perlu dilatih kepekaan dan kepedulian yang tinggi terhadap sumber-sumber masalah penelitian di atas. Kepekaan itu bisa di dapat jika ada upaya pendalaman dan pengkhususan (immersion dan guided entry) terhadap bidang masalah yang diteliti (Rakhmat,1984:23)

2. Kriteria dan Cara Merumuskan Masalah Penelitian

a. Kriteria Masalah Penelitian
Penelitian yang baik adalah penelitian yang memenuhi lima ciri utama yaitu menarik minat peneliti, bisa dikerjakan (feasibel), jelas (clear), berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia (significant), dan tidak menimbulkan kerusakan bagi alam, lingkungan,dan manusia (ethical) (Fraenkel,1993:24; Suharsimi,1996:26; Suryabrata, 1983:63-64; Koentjaraningrat, 1990:15; dan Nawawi,1993: 42 – 43).

Masalah penelitian harus menarik karena akan berdampak pada motivasi si peneliti. Masalah yang menarik akan merangsang peneliti lelakukan penelitian sebaik mungkin, segala daya upaya akan ia lakukan untuk memecahkan masalah tersebut.
Masalah penelitian mesti feasible karena berkaitan dengan mungkin tidaknya penelitian itu dilakukan. Aspek efesiensi merupakan salah satu dasar kriteria ini. Suharsimi Arikunto memberikan pertimbangan mungkin tidaknya sebuah masalah diteliti dari sisi si peneliti dan dari sisi faktor pendukung sebagai berikut :

Ditinjau dari diri peneliti :
1) peneliti mesti mempunyai kemampuan untuk meneliti masalah itu, artinya menguasai materi yang melatarbelakangi masalah dan menguasai metode untu memecahkannya.
2) Peneliti mempunyai waktu yang cukup sehingga tidak melakukannya asal selesai.
3) Peneliti mempunyai tenaga untuk melaksanakannya.
4) Peneliti mempunyai dana yang mencukupi.
Dari sisi tersedianya faktor pendukung:
1) tersedia dana sehingga pertanyaan penelitian dapat dijawab.
2) Ada izin dari yang berwenang.

Sebuah masalah penelitian juga mesti jelas (clear) karena masalah penelitian tidak hanya harus dipahami oleh si peneliti saja, tetapi juga oleh masyarakat banyak. Nawawi menambahkan agar sebelum melaksanakan penelitian, seorang peneliti melakukan studi literatur. Apabila dari studi literatur ternyata masalah yang akan diteliti sudah dilakukan orang lain dengan gamblang, maka sebaiknya dipertimbangkan lagi agar penelitiannya tidak sia-sia. Hal lain yang harus dilakukan adalah berusaha mendiskusikan masalah yang akan ditelitinya dengan teman sejawat atau berkonsultasi/meminta pendapat seseorang atau beberapa orang yang dianggap ahli di dalam bidang yang akan ditelitinya. Hal ini untuk menghindari pengulangan penelitian yang telah dilakukan peneliti lain. (1993: 42 – 43). Dari sisi kejelasan masalah, pendefinisian inti masalah perlu dilakukan dari berbagai sisi, antara lain memperhatikan definisi dari kamus, kesepakatan umum, jika perlu disertai dengan contoh yang konkret. Penjelasan inti masalah dalam suatu penelitian yang baik umumnya diungkapkan dengan definisi oprasional.

Kriteria lain yang tidak kalah pentingnya adalah significant. Kriteria ini mengacu pada keharusan bahwa sebuah penelitian mesti berkontribusi terhadap pengetahuan penting bagi manusia. Penelitian idealnya menjawab pertanyaan yang memajukan pengetahuan dalam bidang yang diteliti, juga secara praktis penelitian itu meningkatkan kualitas kehidupan manusia.
Kriteria selainnjutnya adalah etis (Ethical). Masalah penelitian mesti etis, pantas, layak dan beradab untuk diteliti. Intinya, penelitian itu tidak menyebabkan kerusakan bagi manusia, alam, dan sosial.



b. Cara Merumuskan Masalah

Rumusan masalah yang baik adalah rumusan masalah yang memenuhi kriteria-kriteria di atas, yaitu menarik, bisa dilaksanakan, jelas, bermanfaat, dan etis. Untuk keperluan praktis pelaksanaan penelitian, ada dua pola perumusan praktis masalah penelitian. Pola pertama merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan penelitian dan pola yang lain masalah dirumuskan dalam bentuk kalimat pernyataan (Sugiyono, 1994:36).

Berikut ini contoh masalah penelitian yang dirumuskan dalam bentuk pertanyaan
1) Bagaimanakah sikap masyarakat Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang terhadap KB mandiri ?
2) Adakah perbedaan produktivitas kerja antara pegawai negri dan pegawai swasta ?
3) Adakah hubungan antara banyaknya semut di pohon dengan manisnya buah?
4) Seberapa besar pengaruh tata ruang kantor terhadap semangat kerja pegawai ?
Jika dirumuskan dengan bentuk kalimat pernyataan, rumusan masalah di atas akan menjadi kalimat berikut :
1) Sikap masyarakat Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang terhadap KB mandiri.
2) Perbedaan produktifitas kerja antara pegawai negri dengan pegawai swasta.
3) Hubungan antara banyaknya semut dengan manisnya buah.
4) Pengaruh tata ruang kantor terhadap semangat kerja pegawai.

Berdasarkan pembahasan terhadap beberapa literatur kita bisa memperoleh beberapa simpulan sebagai berikut:
1) Masalah adalah keadaan yang berupa kesenjangan (gap) antara kenyataan dan harapan. Kesenjangan itu bisa bersifat konsptual-teoretis maupun bersifat praktis.
2) Karena masalah dalam kenyataannya berada dalam suatu konteks yang utuh, maka bentuk masalah bisa satu varibel, beberapa variabel, bahkan bisa merupakan perbandingan atau hubungan antar variabel.
3) Kedudukan masalah dalam suatu penelitian sangat penting. Masalah merupakan pangkal dan acuan utama segala bentuk upaya yang dilakukan dalam penelitian, pada hakikatnya sebuah penelitian dilaksanakan untuk mendapat kebenaran (truth) dengan memecahkan masalah.
4) Sumber masalah penelitian banyak sekali. Masalah bisa dimbil dari dari kehidupan sehari-hari; dari membaca buku; dari saran orang lain; dari adanya penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan; dari penyimpangan antara apa yang telah direncanakan dengan kenyataan; dari pengaduan; dari kondisi yang muncul karena adanya kompetisi; dari berisi laporan penelitian, seminar, diskusi, dan pertemuan ilmiah lain ; dari pernyataan pemegang otoritas; pengamatan sepintas; pengalaman pribadi; atau kadang kala dari perasaan intuitif. Meskipun demikian, masalah penelitian baru bisa diperoleh jika ada kepedulian dan kepekaan peneliti dalam menemukan masalah.
5) Pemilihan masalah dalam penelitian idealnya memenuhi kriteria menarik, bisa diteliti, jelas, bermanfaat, dan etis.
6) Dalam merumuskan masalah, dikenal ada dua cara perumusan. Perumusan pertama menggunakan bentuk pernyataan. Perumusan masalah kedua menggunakan bentuk pertanyaan.

Tidak ada komentar: